Perlu Tahu: Tata Cara Shalat Gerhana


Apa shalat gerhana itu? Bagaimana tata cara shalat gerhana? Shalat gerhana merupakan shalat sunah yang dilaksanakan pada ketika terjadinya gerhana. Baik gerhana Matahari, maupun gerhana Bulan. Adapun untuk tata cara pelaksanaannya, akan dijelaskan pada uraian berikut.




 Shalat gerhana merupakan shalat sunah yang dilaksanakan pada ketika terjadinya gerhana Perlu Tahu: Tata Cara Shalat Gerhana
Gerhana matahari total – Kredit: news.softpedia.com

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Shalat Gerhana


1. Mandi

Sebelum melaksanakan shalat gerhana, disunnahkan untuk mandi sunnah terlebih dahulu. Ini lantaran shalat gerhana dilaksanakan secara berjamaah.

2. Tanpa Azan dan Iqamat

Pelaksanaan shalat gerhana tidak didahului oleh azan dan iqamat. Sebagaimana hadits berikut.

Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah“. (HR. Bukhari)

3. Dilaksanakan Secara Berjamaah

Shalat gerhana sebaiknya dilaksanakan secara berjamaah. Hal tersebut menurut hadits berikut.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau kemudian mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi kemudian maju dan bertakbir. Beliau melaksanakan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at. (HR. Muslim no. 901)

4. Memperpanjang Bacaan, Juga Memperlama Rukuk dan Sujud

Bacaan dalam shalat gerhana hendaknya diperpanjang. Begitu pula dengan rukuk dan sujud, dilakukan dengan lebih lama.

Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas dia shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dan mengimami insan dan dia memanjangkan berdiri. Kemuadian dia ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian dia berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian dia ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian dia sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya dia mengerjakannya ibarat raka’at pertama. Lantas dia beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. (HR. Bukhari, no. 1044)

5. Bacaan Dapat Dikeraskan ataupun Tidak

Bacaan dalam shalat gerhana sebaiknya dibaca secara jahr (dikeraskan). Namun, ada juga ulama yang beropini bahwa bacaan dalam shalat gerhana sanggup juga dibaca secara sirr (tidak dikeraskan).

6. Ada 2 rukuk dalam Setiap Rakaat

Shalat gerhana terdiri atas 2 rakaat. Setiap rakaat terdiri atas 2 rukuk, sebagaimana disampaikan dalam hadits berikut.

Dari Abdullah bin Amru berkata,”Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi SAW, orang-orang diserukan untuk shalat “As-shalatu jamiah”. Nabi melaksanakan 2 ruku’ dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melaksanakan 2 ruku’ untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra berkata,”Belum pernah saya sujud dan ruku’ yang lebih panjang dari ini. (HR. Bukhari dan Muslim)

 7. Khutbah

Setelah shalat gerhana, dilakukan khutbah. Sebagaimana disampaikan dalam hadits berikut.

Dari Aisyah ra berkata,”Sesungguhnya ketika Nabi SAW selesai dari shalatnya, dia berdiri dan berkhutbah di hadapan insan dengan memuji Allah, kemudian bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan yaitu sebuah tanda dari gejala Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan simpulan hidup seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)

Tata Cara Shalat Gerhana



  1. Berniat di dalam hati untuk melaksanakan shalat gerhana.

  2. Takbiratul ihram.

  3. Membaca doa iftitah, surah Al-Fatihah, dan surah yang panjang (misalnya, Al-Baqarah).

  4. Rukuk dengan memanjangkan bacaannya.

  5. I’tidal (bangkit dari rukuk).

  6. Setelah i’tidal tidak eksklusif sujud. Namun, kembali membaca surah Al-Fatihah dan surah panjang. Berdiri yang kedua kali ini dilakukan secara lebih singkat daripada berdiri yang pertama.

  7. Rukuk yang kedua.

  8. I’tidal (bangkit dari rukuk) yang kedua.

  9. Sujud dengan memanjangkan bacaannya. Duduk di antara dua sujud. Kemudian, sujud yang kedua.

  10. Bangkit dari sujud, kemudian melaksanakan rakaat kedua. Cara pelaksanaannya sama ibarat rakaat pertama, namun dilakukan dengan lebih singkat.

  11. Tasyahud.

  12. Salam.

  13. Khutbah.

Shalat gerhana sebaiknya dilaksanakan secara berjamaan. Pelaksanaannya pun sebaiknya di masjid ataupun mushala. Namun, bila tidak memungkinkan, Anda sanggup melaksanakannya sendirian. Semoga informasi mengenai tata cara shalat gerhana ini bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Perlu Tahu: Tata Cara Shalat Gerhana"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel